Just got home…
Saturday, October 21st, 2006Just got home and everything goes not too well.
it’s been weeks but I think I’m strong enough to go on…
Just got home and everything goes not too well.
it’s been weeks but I think I’m strong enough to go on…
"’Sederhana’ adalah waktu [aku] putus dengan pacarku. Tadinya aku kira hal itu akan lebih rumit, tapi ternyata tidak. Aku harap aku melakukannya lebih awal, tapi ada begitu banyak alasan, alasan-alasan logis untuk tetap jalan dengannya…." — Will Trombal dalam novel "Saving Francesca" karya Melina Marchetta.
Dari dialog itu, bisa kebaca dong apa yang dimaksudkan Will? Dia pikir, seharusnya dia mutusin pacarnya lebih awal, tapi ada alasan-alasan logis yang menyebabkan dia tetap bersama mantan pacarnya itu. Dia kira, kalau dia putus dengan pacarnya, semuanya akan jadi rumit, tapi ternyata nggak. Dia justru merasa lega.
Itulah yang terjadi denganku!
Hi hi.
Kadang-kadang aku justru mau ketawa kalo ingat waktu aku putus sama dia. Waktu itu aku putus lewat SMS, bener-bener aneh. Aku mikir, "Bego banget nih. Dua tahun pacaran, empat hari dia diemin aku, akhirnya cuma gini?"
Kok kayaknya nggak dramatis banget gitu lho.
Nggak kayak di film-film (ya iyalahhh…). Adegan putusnya Ringo yang di film "Jomblo" aja dapet nominasi most… most apa sih? Heart-melting moment ya?
And after the break-up,
aku nulis ini-itu, ngabisin waktu dengan dengerin lagu, ngerjain tugas essay 5-7 halaman, dan baca novel "The Sun Also Rises"-nya Hemingway.
And as the time passes by, I thought, "Hell, everything feels so much simpler without him!"
Um, I hope this decision could bring me to a better point of view in the way I looked at my life. Amiinnn…
Hidup para JombLo!
Besok tuh ujian kok aku malah sibuk sama nih laptop?
Aneh deh.
Oh iYa, thaNx 4 aLL of U whO has VisIted My bLog and GivE
Me YouR pRecious tHoughts.
Kalo liat jadwal ujian yang tinggal 2 hari lagi, aku makin nggak sabar pengen go back home. Ujian selesai tanggal 18 dan aku pulang tanggal 21. Dah kangen ma kampung halaman. Well, Jogja is a great place though, but this city doesn’t "Feel Like Home" kalo kata Fort Minor.
Kuliahku udah mulai memasuki hari ke 40an lah. Tapi serasa udah kuliah semester 3!
Soalnya tugas dari dosen bener2 menumpuk (semuanya dalam bentuk esay akademis dan makalah, baik itu tugas kelompok ataupun individu). Dan dalam menulis esay-esay itu, perlu pemikiran yang sedalem lautan dan perlu buku referensi yang nggak dikit. Akibatnya, yang di SMA cuma masuk perpus buat dingin2 habis olah raga, sekarang jadi penghuni tetap perpus (yang jaga muak kali ngeliat mukaku). Trus, yang tadinya nggak pernah nulis berdasarkan fakta (aku kan biasa nulis novel, jadi aku bener-bener harus putar haluan lho!) jadi udah kayak kolumnis di koran-koran aja, mengkritik pemerintah dan menulis tentang negara ini di mata kita. Wah, keren banget. Nggak nyangka kuliah di komunikasi sekeren ini!
Besok ujianku Agama Islam. Aku nggak ada belajar sama sekali (aku nggak bangga lho). Dari SMA, aku tuh emang pemalas, paling malas kalo harus ngafal mati (kecuali pelajaran2 yang menarik minatku). Kalo disuruh milih, mending disuruh nulis essay deh.
Thank God besok ujiannya jam satu.
Jadi bisa belajar pagi/siangnya. Daripada belajar malem. Enakan beberapa jam sebelum ujian tho? Lebih fresh! (alah, ini cuma excuse-ku aja gara2 malas belajar malem ini, hehe)
Nulis opo meneh yo? (sok bahasa jawa, padahal taunya itu-itu aja!)
Wis lah. Nothing in my mind.
Haezzzz… maap ya pak Gus Dur, tapi saya seneng bgt kalo Bpk ngomong "Gitu aja kok repot?"
Abis lucu sih. <anekdot yang anehhh….>
I LOVE LIBRARY
Well, well, well, "commencing with the simplest thing" (kutipan dari perkataannya Ernest Hemingway — Penulis fav.ku). Today everything is simpler than I thought. Ke kampus jam 7.15, sampe sana ngumpulin essay mid semester, trus langsung berangkat ke rumah ke-2-ku (yaitu perpustakaan fisipol di sekip), padahal perutku sakit… gak tau napa. Mag kali ya?
Di perpus, nobody’s there. Cuma ada mbak2 pegawai perpus 2 orang. Yang satu baeeeekk banget, mo nunjukkin aku di rak mana kode buku 8-31. Haez… ternyata jauh di ujung sonoo. Berdebu dan tampak tidak pernah tersentuh. Hee…
Rak buku itu rak buku paling "keramat" buat aku. Gimana nggak, karya2 literatur besar seperti kumpulan 3 novelnya Ernest Hemingway aja ada!!! God, I love library!
Aku juga liat Moby Dick dan masterpiece2 lain… hebat euy!
Sekarang aku lagi baca "The Sun Also Rises"-nya Ernest Hemingway. Sayangnya, novel Pak Hem yang "Moveable Feast" gak ada. Hiks. Padahal tu novel kan tergolong yang paling baru, liris tahun 1960an gitu.
Jika ada yang membaca blogpost ku ini dan nggak tau siapa itu Hemingway, jangan sungkan nanya ke aku yaa! Hehe….
Kenapa judulnya "free loop" alias "lompatan bebas"?
Karena selama sebulan ini, ada lompatan jauh yang telah kulakukan.
Dan… sepertinya, dalam melakukan lompatan itu, aku nggak sadar.
Tiba-tiba saja semua terjadi.
Gagasan bahwa Tuhan bekerja secara misterius itu makin kupercaya.
Ia benar-benar menuliskan rencanaNya dengan rapi dan cantik.
I don’t know where the story will end, but that’s not important at all.
What ’s important is… am I ready to start it?
I mean, I don’t do anything. I just take it for granted.
Kadang aku perlu sedikit keyakinan untuk menuntaskan apa yang telah kumulai.
My favorite quote ever: "pretty girls get all but not what I get",
tapi lupa siapa yang ngomong.
Tadi, tanpa ada niatan sebelumnya,
aku mendengarkan bincang-bincang ramadhan di TV.
Percayalah, ini bukan sesuatu yang biasa kulakukan.
Tapi toh aku sudah terlanjur tertarik dengan acara itu.
Dan tanpa kukira ataupun rencanakan, aku mengangguk-angguk saat sang ustadz berkata dengan santai,
"Hidup itu mudah. Manusia yang membuatnya susah. Padahal, kita sudah diberiNya akal, pikiran, dan kebebasan untuk memilih."
The freedom to choose. Hell yeah.
Dia gak maksa kita kok. Dia kan gak butuh kita. Kita yang butuh Dia.
Aku setuju dengan ustadz itu. Terlepas dari posisinya sebagai ustadz loh.
Aku melihat dia seperti layaknya aku sendiri; seseorang yang tidak percaya pada istilah "Atheis".
There’s no such thing. Orang yang mengaku atheis pasti telah membohongi dirinya sendiri.
Bukannya setiap orang harus punya agama loh, tapi aku yakin,
deep inside their heart, mereka sebenarnya merasa dan tahu bahwa ada Zat yang lebih kuat daripada kekuatan manusia di mana pun.
Ada yang menciptakan kita.
Well, kembali kepada freedom to choose. What do you think?
Menurutku, ini gagasan yang bagus.
Setiap orang memiliki hak untuk memilih; mengaku atheis atau tidak,
datang ke kampus atau tidak, menjadi brengsek atau tidak (toh kadar brengsek bagi tiap individu berbeda-beda)
Jadi, pilihlah.
Buatlah lompatan sejauh yang kau bisa.
That’s what I’m tying to do now.
I want to take a free, far loop.
Siapa sangka hidup akan sekeren ini? Seandainya saja kewenangan tidak disalahgunakan.
Seandainya saja manusia tidak perlu memanen duka.
Tapi-hey-itu konsekuensi dari sebuah free loop kan?
Aku nggak tahu ngomong apa aku sekarang, tapi kurasa ini sudah cukup untuk membuat hati ini tentram.
Aku suka lagu-lagunya Daniel Powter. Begitu jujur. Seperti Green Day.
Seperti Billie Joe yang mengaku agnostic tapi masih percaya pada adanya Kekuatan Yang Maha Besar.
Oh I love this song….
"We can baby, we can do the one night stand…"